mayouries@gmail.com 03315101602

Saat Santri Putri Menjadi Mahasiswi untuk Negeri

23 September 2021 Mayouries Dibaca 43 kali Kolom Alumni
Saat Santri Putri Menjadi Mahasiswi untuk Negeri

Gorontalo – “Hidup adalah pilihan”, adalah sebuah motto seorang santri putri yang namanya mungkin sudah tak asing didengar  di lingkungan Pondok Pesantren Nurul Islam Jember. Terdengar simple namun memiliki pengaruh besar terhadap perjalanan hidupnya. Alivia Nadatul Aisyi bayi mungil yang lahir 20 tahun silam tepatnya 17 November 1995. Saat ini ia tumbuh dewasa menjadi seorang gadis yang memilih hidup dekat dengan pesantren. Jiwanya akan merasa kosong saat ia tidak dekat dengan kehidupan pesantren. Baginya pesantren adalah sebuah sumber energi spiritual yang sangat besar pengaruhnya untuk kehidupan masa depan. Tahun 2008 saat ia lulus dari SD Al-Baitul Amin Full Day School Jember, pilihan pertama dalam hidupnya adalah melanjutkan belajar di pesantren. Pesantren Nurul Islam (NURIS) Jember sebuah pesantren yang saat itu memiliki kurikulum seimbang antara pendidikan formal dan non formal. Santri-santri tidak hanya belajar ilmu pengetahuan agama namun mereka juga sekolah formal agar bisa menyeimbangkan akademik. MTs unggulan adalah lembaga yang ia pilih, meski sekolah MTs baru berdiri dan ia menjadi salah satu dari 24 siswa angkatan pertama, tak mampu menyulutkan semangatnya untuk terus semangat belajar.

(Baca juga: Raih Medali Perunggu Bidang Saintek Tingkat Nasional, Bukti Potensi Sains di MA Unggulan Nuris)

Tahun kedua tepatnya saat kelas 2 MTs ia menjabat sebagai ketua osis MTs Unggulan Nuris, seiringan dengan jabatan tersebut, di pesantren ia mendapat amanah untuk menjadi ketua ekstrakurikuler pondok (EKSPON) dan dilanjutkan dengan jabatan wakil ketua pondok putri saat kelas 3 MTs. Melekatnya kehidupan pesantren membuatnya memilih untuk melanjutkan sekolah di MA unggulan dan kedua kalinya ia menjadi salah satu siswa angkatan pertama  dari 27 siswa. Prestasi-prestasi akademik dan non akademik yang ia peroleh memotivasinya bahwa pesantren adalah tempat yang paling tepat untuk mendapat keseimbangan dalam menjalani kehidupan. Sehingga sampai saat ini ia tidak ingin melepas kehidupan pesantren dalam karir pendidikannya.

Saat ini, santri yang akrab dipanggil Aliv tersebut sedang melanjutkan studinya di Universitas Jember Fakultas Keguruan Ilmu Pendidikan Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia melalui jalur SBMPTN. Sembari kuliah, gadis yang sangat hobi menonton film India ini lebih memilih menyibukkan diri di Pesantren Nuris. Membantu mengajar diniyah, menjadi pimpinan redaksi Majalah Nuris (MN), pengurus, dan kegiatan-kegiatan pesantren lainnya. Seiringan dengan motto hidupnya, kesibukan pesantren tidak menjadi halangan ia untuk aktif dikampus pula.

Tepat tanggal 4 September 2016, mahasiswi yang tahun ini meraih juara 2 peksiminal cabang lomba membaca puisi tersebut menjadi delegasi Universitas Jember untuk mengikuti program Pertukaran Mahasiswa Tanah Air Nusantara (PERMATA). Program besasiswa MENRISTEKDIKTI untuk seluruh mahasiswa nusantara tersebut diikuti oleh seluruh Universitas se-Indonesia dengan mengirimkan mahasiswa terpilih ke universitas yang saling membuat MoU. Saat ini Aliv sedang menempuh semester 5 di Universitas Negeri Gorontalo begitu sebaliknya, UNG mengirim delegasinya ke UNEJ.

(Baca juga: Selamat dan Sukses, Alumni MA Unggulan Nuris Dilantik Jadi Ketua Rayon)

 

Berada di UNG, gadis yang sangat penggemar keju tersebut memiliki teman-teman baru dari UNIMED (Universitas Negeri Medan), UNNES (Universitas Negeri Semarang),UNS (Universitas Negeri Sebelas Maret Surakarta). Dengan batas tempuh SKS adalah 18, peraturan dikti tersebut menjadikan seluruh mahasiswa PERMATA memiliki kesempatan belajar budaya selama mengikuti program tersebut. Begitu pula Alivia dan teman-temannya, mereka memiliki kesempatan belajar budaya Gorontalo. Gorontalo adalah salah satu kota budaya di Indonesia yang sangat beragam keunikannya. Tidak hanya belajar budaya, mereka juga mendapat pelatihan bahasa Inggris dan softskill lainnya agar saat kembali ke kota masing-masing merek bisa memanfaatkannya. Semua kegiatan sangat mengasyikkan karena selain belajar mereka juga menikmati keindahan alam Kota Gorontalo. Bekal dari kehidupan pesantren membuat ia sangat mudah beradaptasi dengan teman dan lingkungan baru. Kawan-kawan asrama yang begitu ramah menyambut kedatangannya, dosen-dosen UNG pula sangat menerima kehadirannya di lingkungan Kampus Peradaban tersebut.

Semoga sekilas cerita tentang gadis yang saat ini masih menjabat ketua Keamanan Pondok Pesantren Nurul Islam putri dalem timur tersebut menjadi inspirasi bagi seluruh perempuan khususnya santri putri. Jangan pernah menyesal mengambil keputusan hidup, santri adalah abdi negeri, karena negeri adalah milik Ilahi dan Islam berada di negeri kita Indonesia. Selamanya kita Santri, Salam Santri Putri Indonesia ! Terus berkarya!. [Red]

Share :

Komentar

Refresh halaman ini jika komentar tidak tampil