Ayat Mirip Jadi Tantangan Luay Tetap Gas Jaga Hafalan
Pesantren Nuris — Luay Alwan Al Fathi merupakan salah satu santri sekaligus siswa kelas XII D di MA Unggulan Nuris Jember yang dikenal memiliki semangat tinggi dalam menghafal Al-Qur’an. Sosok yang akrab dipanggil Luay ini menjadi salah satu contoh santri muda yang mampu menyeimbangkan kehidupan akademik, kegiatan pesantren, serta proses perjuangan dalam menjaga hafalan Al-Qur’an.
Putra dari pasangan Bapak Sutaman dan Ibu Fuan Alia Maklin ini telah menempuh perjalanan panjang dalam dunia tahfidz. Dengan mengambil paket tahfidz 15 juz, Luay menunjukkan keseriusannya dalam mendalami dan menjaga Kalamullah. Perjalanan tersebut tentu tidak mudah, karena menghafal Al-Qur’an membutuhkan ketekunan, kedisiplinan, dan kesabaran yang luar biasa.
Sebelum melanjutkan pendidikan di MA Unggulan Nuris Jember, Luay menempuh pendidikan di SMP Nuris Jember. Lingkungan pesantren yang kuat dengan budaya mengaji dan belajar agama menjadi salah satu faktor penting yang membentuk karakter serta semangatnya dalam mendalami Al-Qur’an.
Di balik kesibukannya sebagai santri tahfidz, Luay juga memiliki kepribadian yang santai dan penuh semangat. Ia memiliki hobi hiking atau naik gunung serta suka bercanda dengan istilah “flexing”. Hobinya mendaki gunung menunjukkan bahwa dirinya menyukai tantangan dan petualangan, sementara sifat santainya membuatnya mudah bergaul dengan teman-teman di lingkungan pesantren.
(Baca juga : Geliat Prestasi Santri MA Unggulan Nuris Asal Bondowoso Rebut Medali Perunggu Sosiologi KSN 2026)
Motivasi terbesar Luay dalam menghafal Al-Qur’an adalah keinginannya untuk menjadi pribadi yang bermanfaat di dunia dan akhirat. Selain itu, ia juga ingin membahagiakan kedua orang tuanya melalui pencapaian dan perjuangannya dalam menjaga hafalan Al-Qur’an. Baginya, keberhasilan seorang anak bukan hanya tentang prestasi pribadi, tetapi juga tentang bagaimana membuat orang tua bangga dan bahagia.
Namun, perjalanan menghafal Al-Qur’an tentu tidak selalu berjalan mulus. Luay mengaku bahwa salah satu kesulitan terbesar yang sering ia hadapi adalah menemukan ayat-ayat yang mirip atau sama sehingga membuat hafalan menjadi belibet dan sulit dibedakan. Tantangan seperti ini memang sering dialami oleh para penghafal Al-Qur’an, terutama ketika hafalan sudah semakin banyak.
Meski demikian, Luay tidak menyerah menghadapi kesulitan tersebut. Ia terus berusaha memperkuat hafalannya dengan cara yang sederhana namun konsisten. Menurutnya, metode yang digunakan para santri tahfidz pada dasarnya hampir sama, yaitu terus membaca dan mengaji secara rutin. Baginya, inti utama dari menjaga hafalan adalah istiqomah dalam membaca Al-Qur’an setiap hari.
Dalam proses menghafal, Luay memiliki banyak pengalaman berkesan yang sulit dilupakan. Salah satu pengalaman yang paling membekas adalah ketika ia pernah diminta untuk menyetorkan hafalan hingga tengah malam. Pengalaman tersebut menjadi salah satu momen yang menunjukkan bagaimana perjuangan seorang penghafal Al-Qur’an membutuhkan pengorbanan waktu, tenaga, dan kesabaran yang besar.
Meskipun melelahkan, pengalaman itu justru menjadi kenangan berharga bagi Luay. Dari situ, ia belajar bahwa proses panjang dan penuh tantangan merupakan bagian penting dalam perjalanan mencapai tujuan besar. Baginya, rasa lelah akan terasa ringan ketika dijalani dengan niat ibadah dan semangat untuk terus belajar.
Selain aktif dalam program tahfidz, Luay juga pernah mengikuti lomba internal tahfidz yang diselenggarakan di MA Unggulan Nuris Jember. Dalam ajang tersebut, ia berhasil meraih Juara 2 tingkat lembaga. Prestasi ini menjadi bukti bahwa usaha dan konsistensinya dalam menghafal Al-Qur’an mampu membuahkan hasil yang membanggakan.
Prestasi tersebut tidak hanya menjadi kebanggaan pribadi, tetapi juga menjadi motivasi tambahan bagi dirinya untuk terus memperbaiki hafalan dan meningkatkan kualitas bacaan Al-Qur’an. Luay menyadari bahwa menjaga hafalan jauh lebih sulit daripada menghafalnya, sehingga ia terus berusaha istiqomah dalam murojaah setiap hari.
Ke depan, Luay memiliki harapan besar agar apa yang telah ia hafal tidak hanya berhenti sebagai hafalan semata, tetapi juga dapat diamalkan dalam kehidupan sehari-hari. Ia ingin menjadikan Al-Qur’an sebagai pedoman hidup yang mampu membimbing langkahnya di masa depan.
Selain memiliki impian dalam bidang keagamaan, Luay juga memiliki cita-cita untuk melanjutkan kuliah di luar kota dan ingin menjadi seorang aktor. Cita-cita tersebut menunjukkan bahwa dirinya memiliki banyak impian dan ingin terus berkembang dalam berbagai bidang kehidupan.
Luay Alwan Al Fathi menjadi gambaran nyata tentang perjuangan seorang santri muda dalam menjaga hafalan Al-Qur’an di tengah berbagai aktivitas dan tantangan. Dengan semangat, konsistensi, dan niat yang tulus, ia membuktikan bahwa generasi muda mampu menyeimbangkan antara pendidikan, hobi, dan perjuangan spiritual.
Perjalanan Luay juga menjadi inspirasi bagi para siswa lainnya bahwa menghafal Al-Qur’an bukanlah sesuatu yang mustahil jika dilakukan dengan kesungguhan dan istiqomah. Setiap ayat yang dihafal adalah proses panjang yang membutuhkan perjuangan, tetapi hasilnya akan menjadi bekal berharga untuk kehidupan dunia maupun akhirat.
Semoga perjalanan Luay dalam menjaga 15 juz Al-Qur’an terus diberikan kemudahan dan keberkahan. Dengan tekad kuat dan semangat yang dimilikinya, bukan tidak mungkin ia akan menjadi sosok yang sukses, bermanfaat bagi banyak orang, serta mampu mewujudkan semua impiannya di masa depan. [LA.Red]
Nama : Luay Alwan Al Fathi
Hobi : Hiking
Cita2 : Aktor
Lembaga : MA Unggulan Nuris Jember
Kelas Formal : XII D
Prestasi : Khatam 15 Juz
Sumber : pesantrennuris.net