Kudengan ia bercerita tentang pigura kayu yang berdiri ragu-ragu, dengan gambar seorang perempuan yang pudar dalam foto keluarga.
Lalu, ia menyentuh pigura itu membersihkan sisa kerinduan. Sembari mendengar kotak musik bersenandung lagu kesedihan.
Membenarkan jarum jam miring yang kewalahan menyeimbangkan waktu.
Menutup album kenangan hasil tangkap kamera pada hari ibu pada waktu itu.
Lalu ia keluar, dengan memanggul kerinduan akut.
Menyeka air mata yang tak mungkin ia miliki sendirian.
Setelah itu, ia duduk diserebah kesedihan, dengan memakai gaun perpisahan berwarna hitam pekat.
Memeluk tubuhnya sendiri, serupa pelukan abadi.
Sembari meminum seteguk cangkir do'a lalu ia mengirim pesan terakhir pada semesta "bisakah aku tetap mencintainya di bumi, ketika ia menjelma menjadi orang asing di surga"