Basirah akan

Menjelang musim berganti, gerimis runtuh satu-satu

seperti huruf rontok dari langit

dan gagal menulis kata manis.


lalu lusa, tiba-tiba hujan

berikhtiar menebar senyumannya 

tiap tetesnya mengalir pelan

membawa harapan juga impian 

mengetuk tudung akar yang sedari tadi menanti tamu datang.


sampai seorang santri membungkus tholabal ilmi

yang sempat ia bawa dari kampung  halaman sendiri 

lalu, bagaimana pasal jika air tercemar minyak gosong?

bagaimana pasal jika niat tercemar rasa sombong?


bukankah akar yang kokoh dan menyerap air tak keruh 

melahirkan pohon rimbun yang utuh?

bukankah niat yang kuat dan hati yang bersih 

melahirkan sehampar mimpi yang jernih?

Refresh halaman ini jika komentar tidak tampil