Bacharuddin Jusuf Habibie atau lebih dikenal sebagai B. J. Habibie lahir di Parepare, Sulawesi Selatan, pada 25 Juni 1936. Ia merupakan anak keempat dari delapan bersaudara, pasangan Alwi Abdul Jalil Habibie dan R.A. Tuti Marini Puspowardojo.
Ayahnya, Alwi Abdul Jalil Habibie, berasal dari etnis Bugis-Gorontalo dan dikenal sebagai seorang petani. Ia memiliki marga Habibie, salah satu marga asli dalam struktur sosial Pohala'a di Gorontalo. Secara historis, marga Habibie berasal dari wilayah Kabila, Kabupaten Bone Bolango, Provinsi Gorontalo. Kakek B. J. Habibie merupakan seorang pemuka agama, anggota majelis peradilan agama, serta salah satu pemangku adat Gorontalo yang disegani. Sementara itu, ibunya, R.A. Tuti Marini Puspowardojo, berasal dari etnis Jawa. Ia merupakan putri seorang dokter spesialis mata di Yogyakarta dan berasal dari keluarga yang sangat menghargai pendidikan.
Sejak kecil, B. J. Habibie dikenal sebagai anak yang cerdas dan memiliki minat besar terhadap ilmu pengetahuan, terutama di bidang teknologi dan penerbangan. Setelah menempuh pendidikan di Indonesia, ia melanjutkan studi teknik penerbangan di Jerman. Di sana, Habibie berhasil menyelesaikan pendidikan tinggi dan kemudian bekerja di perusahaan penerbangan Messerschmitt-Bölkow-Blohm (MBB) yang berkedudukan di Hamburg, Jerman Barat. Berkat kecerdasan dan dedikasinya, ia memperoleh berbagai prestasi dalam bidang teknologi dirgantara.
Pada tahun 1973, atas permintaan Presiden Soeharto, B. J. Habibie kembali ke Indonesia untuk mengabdi kepada bangsa dan negara. Ia tiba di Indonesia pada 14 Desember 1973 dan pertama kali menjabat sebagai Kepala Divisi Teknologi Maju dan Teknologi Penerbangan di Pertamina, yang berada di bawah Departemen Pertambangan dan Energi.
Selanjutnya, pada tahun 1978, Habibie diangkat sebagai Menteri Negara Riset dan Teknologi (Menristek). Jabatan tersebut diembannya hingga Maret 1998. Selama menjabat sebagai Menristek, ia memiliki visi besar untuk menjadikan Indonesia sebagai negara maju melalui penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi. Ia mendorong pengembangan industri strategis nasional, seperti PT Industri Pesawat Terbang Nusantara (IPTN), PT Pindad, dan PT PAL Indonesia. Menurut Habibie, kemajuan bangsa harus ditopang oleh riset, inovasi, dan penguasaan teknologi agar Indonesia mampu bertransformasi dari negara agraris menjadi negara industri.
Selain aktif di pemerintahan, Habibie juga berperan dalam organisasi masyarakat. Pada 7 Desember 1990, ia terpilih secara aklamasi sebagai Ketua pertama Ikatan Cendekiawan Muslim se-Indonesia (ICMI). Kepemimpinannya di ICMI menjadi salah satu upaya untuk meningkatkan kontribusi kaum intelektual dalam pembangunan nasional.
Puncak karier politik B. J. Habibie terjadi pada tahun 1998. Pada 14 Maret 1998, ia dilantik sebagai Wakil Presiden Republik Indonesia ke-7. Tidak lama kemudian, setelah Presiden Soeharto mengundurkan diri pada 21 Mei 1998, Habibie resmi menjadi Presiden Republik Indonesia ke-3. Ia memimpin Indonesia hingga 20 Oktober 1999.
Ketika menjabat sebagai presiden, Habibie menghadapi situasi yang sangat sulit akibat krisis ekonomi, kerusuhan sosial, dan ancaman disintegrasi bangsa pasca berakhirnya pemerintahan Orde Baru. Untuk mengatasi kondisi tersebut, ia segera membentuk kabinet baru, melanjutkan program pemulihan ekonomi bersama Dana Moneter Internasional (IMF) dan negara-negara donor, membebaskan sejumlah tahanan politik, serta memberikan ruang yang lebih luas bagi kebebasan berpendapat dan kebebasan organisasi. Berbagai kebijakan tersebut menjadi bagian penting dari proses reformasi di Indonesia.
Setelah tidak lagi menjabat sebagai presiden, B. J. Habibie tetap aktif memberikan pemikiran dan inspirasi bagi kemajuan ilmu pengetahuan serta pembangunan bangsa. Ia dikenal sebagai tokoh yang sederhana, visioner, dan memiliki kecintaan yang besar terhadap pendidikan, teknologi, dan tanah air.
B. J. Habibie meninggal dunia pada 11 September 2019 pukul 18.05 WIB di RSPAD Gatot Soebroto, Jakarta, setelah menjalani perawatan intensif sejak 1 September 2019 akibat gagal jantung. Jenazahnya disemayamkan di kediamannya di kawasan Patra Kuningan sebelum dimakamkan pada 12 September 2019 di Taman Makam Pahlawan Kalibata, berdampingan dengan istrinya, Hasri Ainun Besari. Upacara pemakaman dipimpin oleh Presiden Republik Indonesia, Joko Widodo.
B. J. Habibie dikenang sebagai salah satu putra terbaik bangsa yang berjasa besar dalam pengembangan ilmu pengetahuan, teknologi, dan industri strategis Indonesia. Semangatnya dalam mencintai ilmu, bekerja keras, dan mengabdi kepada negara menjadi teladan bagi generasi penerus bangsa.
By : Fayyaz XA