Aku tak lagi mampu mendengar lantunannya,
segala memori datang tanpa aba-aba,
pikiranku terhenti dalam pesona,
seperti terhipnotis oleh rasa yang tak biasa.
Segala aktivitasku kehilangan makna,
sekujap waktu terasa berbeda,
sekujur tubuhku waspada dan peka,
menyusuri jejak perasaan yang kian nyata.
baca juga : https://maunggulannurisjember.net/article/1178/kultus
Parasmu, lengkung senyummu,
terukir diam di relung kalbu,
menjadi anggasta dalam jiwaku,
yang tak lekang oleh waktu.
Pikiranku dihantui oleh hayalan,
tentang tawa dan cerita kebahagiaan,
aku tak tahu sampai kapan perasaan,
bertahan dalam labirin keraguan.
Akankah berakhir bahagia,
atau justru luka yang menyapa,
kini aku hanya berzikir dalam doa,
melantunkan harap tanpa jeda.
Semoga kelak bertemu insan berhati,
penyempurna segala renjana di diri,
salam rindu untuk sang permaisuri,
yang kupeluk dalam doa suci.
sumber : Annida Alifa Hasan