K.H. Abdul Wahid Hasyim lahir di jombang, Jawa Timur, pada Juni 1914, dari keluarga ulama besar yang sangat berpengaruh dalam sejarah Islam di Indonesia. Ia adalah putra dari keluarga Hadratussyaikh K.H. Hasyim Asy'ari, pendiri Nahdlatul Ulama, dan Nyai Hajjah Nafiqoh binti K.H. Ilyas. Sejak kecil, ia tumbuh dalam lingkungan yang penuh dengan nilai keilmuan, keimanan, dan kedisiplinan. Awalnya, ia diberi nama Muhammad Hasyim, namun kemudian diganti menjadi Abdul Wahid.
Sejak usia dini, K.H. Abdul Wahid Hasyim telah menunjukkan semangat belajar yang luar biasa. Ia belajar membaca Al-Qur'an langsung dari ayahnya, kemudian melanjutkan pendidikan di Madrasah Salafiyah Tebuireng. Pada usia tujuh tahun, ia mulai mendalamui berbagai kitab klasik Islam, seperti Fathul Qorib, Minhajul Qawin, dan Mutammimah. Tidak pernah merasa puas dengan ilmu yang dimilikinya, ia terus berpindah dari satu pesantren ke pesantren lain untuk memperluas wawasan. Bahkan , ia rela merantau jauh ke Mekkah demi memperdalam ilmu agama dan memperluas pandangannya tentang dunia Islam.
Ketika berusia 25 tahun, K.H. Abdul Wahid Hasyim menikah dengan Nyai Sholichah, putri K.H. Bisri Syansuri, yang juga merupakan tokoh besar Nahdhatul Ulama. Pernikahan ini semakin menguatkan peran beliau dalam dunia pendidikan dan dakwah. Dengan bekal ilmu, pengalaman, dan akhlak yang mulia, ia tidak hanya dikenal sebagai ulama, tetapi juga sebagai pemimpin yang bijaksana dan berpikiran maju.
Sepulang dari Mekkah,K.H. Abdul Wahid Hasyim dikenal sebagai sosok yang rendah hati, pekerja keras, dan selalu mengutamakan kepentingan umat di atas kepentingan pribadi. Ia membuktikan bahwa seorang ulama dapat menjadi jembatan antara agama dan negara, antara ilmu dan pengabdian. Atas jasa-jasanya yang besar bagi bangsa indonesia, beliau dianugerahi gelar Pahlawan Nasional.
K.H. Abdul Wahid Hasyim wafat pada tanggal 19 April1953, pukul 10.30 WIB. Meskipun raganya telah tiada, semangat perjuangan, keteladan, dan nilai-nilai luhyur yang ia tanamkan terus hidup hingga kini. Kisah beliau menjadi bukti bahwa dentgan ilmu, keikhlasan, dan tekad yang kuat, seseorang dapat memberikan perubahan besar bagi agama, bangsa, dan negara.