Dalam bulan penuh yang tinggal separuh,
tubuh perlahan terbiasa pada dentang alarmnya.
Bunyi yang dahulu dinanti
kini tak lagi begitu memikat.
Semua berjalan sendiri,
tanpa peduli.
Aku melangkah,
di antara kilau pagi dan lengang malam.
Separuh jalan kutempuh,
untuk diriku yang rapuh.
Bukankah setan telah terbenam?
Namun kecamuk asa mulai merayap,
Namun kecamuk asa mulai merayap,
menggerogoti jerih payah yang terlekap.
Salahkah nasi bila kenyang telah singgah?
Salahkah air bila dahaga mulai terjamah?
oleh: Fatra Arillah