Terjatuh

Dulu aku pernah terbang

Iya terbang

Dari langkah kecil yang kuanggap loncatan

Dari bisik yang kuanggap teriakan

Dari tatap yang kuanggap tembus pandang

Sampai sesekali sok tahu tentang hati seseorang, dan sok kenal dengan bayang di depan pandang

"Wah... ternyata bisa juga aku terbang" bisikku pada telinga yang kukejar berulang-ulang


Sampai akhirnya aku pulang dengan sejuta jumawa

Memekik panjang di pelataran desa dan kota


Hemhhh

Tunggu dulu

Sepertinya itu hanya perasaanku saja

Ya.. dia berteriak lentang di pelataran hati yang kuanggap bukan ilusi

Mencaci setiap sosok yang berlalu-lalang di hadapan diri

"Omonganmu basi" "otakmu tak berisi" "gerakmu tak rapi" "perlu dari awal lagi" "sok asik... "

Sekali lagi, ia hanya mencaci dari balik hatinya


Sambil mengumpulkan validasi dari perasaannya

Perlahan kesombongannya mati di hadapan telinga yang ia kumpulkan sendiri sedari pagi


Akhirnya tuhan menurunkan hujan

Memunculkan tunas baru yang buta akan perasaan

Ia juga tak tau bagaimana harus bersikap dan menilai dirinya sendiri

Yang ia tau hanya kepalanya tertahan sesuatu yang berakar kuat di tanah hati yang tuhan titipkan kepadanya

Dengan susah payah tunas itu mendongakkan kepala

Membuat penghuni lama terjatuh ke dalam jurang tanpa suara


Sumber : Ustad Sadid Niqdhom

Refresh halaman ini jika komentar tidak tampil